<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/74">
<title>Skripsi</title>
<link>https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/74</link>
<description>Skripsi Mahasiswa Program Studi S1 Agroteknologi</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4847"/>
<rdf:li rdf:resource="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4841"/>
<rdf:li rdf:resource="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4804"/>
<rdf:li rdf:resource="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4803"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-02T20:06:24Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4847">
<title>Uji Adaptasi Beberapa Galur Sorghum Bicolor (L.) Moench dan Varietas Lokal di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur</title>
<link>https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4847</link>
<description>Uji Adaptasi Beberapa Galur Sorghum Bicolor (L.) Moench dan Varietas Lokal di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur
Egot, E; Agastya, IMI; Sumiati, A
Indonesia menghadapi tantangan ketahanan pangan akibat ketergantungan tinggi terhadap beras, sementara sebagian besar wilayah berupa lahan kering yang berpotensi dikembangkan untuk serealia alternatif. Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kabupaten Sikka, memiliki sejarah panjang budidaya sorgum lokal, namun produktivitasnya masih rendah dibandingkan potensi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan adaptasi galur sorgum introduksi (G4, G5, G6) dan membandingkan performanya dengan varietas lokal sorgum Sikka. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan 4 perlakuan (Varietas Lokal, Galur 4, Galur 5, dan Galur 6) serta 4 ulangan, sehingga terdapat 16 satuan percobaan. Setiap petak percobaan berukuran 12 m² dengan jarak tanam 75 cm × 25 cm. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif (30 dan 110 HST), diameter batang, jumlah daun, biomassa, komponen malai, hasil biji, serta kandungan gula. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji BNT 5%. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nyata antar varietas. Varietas lokal memiliki keunggulan adaptasi awal dengan tinggi tanaman tertinggi pada fase 30 HST (38,12 cm), sedangkan Galur 4 menunjukkan pertumbuhan vegetatif terbaik pada 110 HST (284,67 cm), diameter batang terbesar (2,76 mm), serta produktivitas biji tertinggi 76,80 g/tanaman (setara 4,8–5,2 ton/ha). Galur 5 menonjol dalam kandungan gula (14,14° Brix), sedangkan Galur 6 memiliki ukuran biji terbesar (33,25 g/1000 biji) tetapi efisiensi produksinya rendah.Kesimpulannya, terdapat trade-off antara adaptasi lokal dan produktivitas tinggi. Varietas lokal tetap relevan untuk adaptasi awal dan plasma nutfah pemuliaan, sementara Galur 4 direkomendasikan sebagai kandidat utama peningkatan produktivitas sorgum di Kabupaten Sikka dengan pendampingan teknis intensif.
</description>
<dc:date>2025-11-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4841">
<title>Pengaruh Media Tanam dan Periode Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bayam Brazil (Alternanthera Sisso)</title>
<link>https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4841</link>
<description>Pengaruh Media Tanam dan Periode Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bayam Brazil (Alternanthera Sisso)
Beke, G; Astutik, A; Sumiati, A
Berbagai jenis tanah, termasuk tanah berbatu, berpasir, dan subur, dapat mendukung pertumbuhan bayam Brasil. Selain itu, bayam Brasil tumbuh subur di kondisi lembab. Bayam Brasil juga dapat bertahan pada suhu setinggi 31ºC dan tingkat kelembaban rendah 60%. Dari hasil penelitian diketahui  Bayam Brazil merupakan tanaman yang sensitif terhadap kondisi lingkungan, terutama ketersediaan air dan nutrisi dalam media tanam. Baik media tanam maupun sistem penyiraman secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panennya. Media tanam yang ideal harus menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan akar yang sehat dan penyerapan dan nutrisi yang optimal. Karakteristik penting media tanam meliputi: Drainase, aerasi, kandungan nutrisi, Ph, sedangkan sistem penyiraman yang tepat memastikan ketersediaan air yang cukup tanpa menyebabkan kelebihan air.
</description>
<dc:date>2025-11-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4804">
<title>Efektifitas Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) Nasa dan Pupuk Npk Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allinum ascalonium L.)</title>
<link>https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4804</link>
<description>Efektifitas Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) Nasa dan Pupuk Npk Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allinum ascalonium L.)
Saiman, VF; Sutoyo, S; Sumiati, A
Masyarakat luas memanfaatkan bawang merah (Allium ascalonicum L.) sebagai produk hortikultura karena nilai ekonominya yang tinggi. Penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman memiliki dampak yang signifikan terhadap upaya peningkatan hasil dan kualitas umbi. Pupuk NPK Mutiara berkontribusi dalam penyediaan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk mendukung proses fisiologis tanaman, sementara pupuk organik cair merk NASA dikenal mampu mendorong pertumbuhan, mempercepat perkembangan tanaman, dan mendukung metode pertanian berkelanjutan. Kombinasi kedua jenis pupuk ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih positif terhadap produksi dan pertumbuhan bawang merah.&#13;
Rancangan blok acak faktorial digunakan dalam penelitian ini untuk menerapkan tiga tingkat pupuk organik cair merk NASA (3 ml per liter, 5 ml per liter, dan 7 ml per liter air) dan tiga tingkat pupuk majemuk yang memasok nitrogen, fosfor, dan kalium (5 gram, 10 gram, dan 15 gram per tanaman). Dua jenis terapi tidak berinteraksi secara signifikan, menurut temuan analisis. Tinggi tanaman, jumlah daun, dan komponen hasil termasuk berat segar, berat kering, dan jumlah umbi semuanya sangat dipengaruhi oleh pupuk majemuk nitrogen-fosfor-kalium, namun pupuk organik cair merk NASA meningkatkan berat tanaman dan jumlah umbi. Pupuk organik cair merk NASA dengan dosis 7 milliliter per liter air, bersama dengan pupuk majemuk nitrogen-fosfor-kalium dengan dosis 15 gram per tanaman, adalah kombinasi terbaik yang menghasilkan nilai terbesar pada kriteria pertumbuhan dan produksi.
</description>
<dc:date>2025-11-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4803">
<title>Penggunaan Dosis Biosan (Biochar Kitosan) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dan Bayam (Amaranthus hybridus L) Periode Musim Tanam Kedua</title>
<link>https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4803</link>
<description>Penggunaan Dosis Biosan (Biochar Kitosan) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dan Bayam (Amaranthus hybridus L) Periode Musim Tanam Kedua
Solo, SI; Hamzah, A; Sumiati, A
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh berbagai tingkat dosis Biosan campuran kitosan dan biochar terhadap perkembangan dan produksi bayam dan sawi hijau selama musim tanam kedua. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor: jenis tanaman dan variasi dosis Biosan. Setiap faktor memiliki banyak tingkat dan diulang tiga kali. Pertumbuhan vegetatif dan hasil tanaman diukur, beserta berat segar dan kering bagian aerial dan akar tanaman, serta tinggi, jumlah, dan luas daun. Temuan menunjukkan bahwa pemberian Biosan secara signifikan memengaruhi setiap parameter yang dievaluasi, dengan dosis tertinggi memberikan hasil terbaik pada kedua spesies tanaman. Pemanfaatan Biosan telah terbukti meningkatkan ketersediaan hara tanah, sehingga mendorong perkembangan dan hasil tanaman sebaik mungkin.
</description>
<dc:date>2025-11-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
