| dc.description.abstract | Kesan sensorik yang tidak biasa, seperti melihat sesuatu, mendengar suara, mencium sesuatu, atau merasakan sentuhan yang sebenarnya tidak ada, merupakan ciri khas halusinasi, suatu gejala penyakit mental. Strategi percakapan dapat membantu mengelola halusinasi dengan mendorong pasien untuk berinteraksi dengan orang lain guna mengalihkan perhatian mereka dari perasaan membingungkan yang mereka alami. Studi kasus ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana pendekatan percakapan dapat diterapkan pada pasien di Desa Bantur yang mengalami halusinasi pendengaran. Partisipan penelitian terdiri dari tiga orang yang menderita halusinasi pendengaran akibat pengalaman sensorik yang abnormal. Ketiga pasien menunjukkan gejala seperti berbicara sendiri, kurang memperhatikan, senyum tanpa motivasi, dan respons yang tertunda terhadap instruksi lisan sebelum menerima perawatan keperawatan. Gejala pasien membaik setelah tiga hari intervensi: mereka mampu mempertahankan kontak mata, tidak terlalu rentan terhadap tekanan dari luar, mampu mendengar bisikan, dan lebih perhatian ketika seseorang berbicara kepada mereka. Hasil ini menunjukkan bahwa teknik percakapan dapat mengurangi halusinasi pendengaran pada individu yang menderita penyakit mental. | en_US |