Show simple item record

dc.contributor.authorBili, Y
dc.contributor.authorMaemunah, N
dc.date.accessioned2025-11-04T05:31:22Z
dc.date.available2025-11-04T05:31:22Z
dc.date.issued2025-11-28
dc.identifier.urihttps://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4743
dc.description.abstractGangguan yang dikenal sebagai hiperbilirubinemia didefinisikan oleh peningkatan kadar bilirubin darah, yang pada neonatus dapat menyebabkan penyakit kuning, yang bermanifestasi sebagai perubahan warna kulit dan sklera. Selain menilai tanda-tanda vital dan suhu setiap empat jam serta mewaspadai efek samping fototerapi seperti diare, ruam kulit, penurunan berat badan, dan kepanasan, perawat sangat penting dalam perawatan bayi baru lahir dengan penyakit kuning. Sebelum perawatan, inkubator dan peralatan fototerapi disiapkan, bayi hanya mengenakan popok, mata mereka ditutup, jarak lampu ditetapkan sesuai dengan protokol, dan tubuh mereka terus-menerus terpapar cahaya. Ibu disarankan untuk menyusui selama 20 hingga 30 menit per sesi, dan popok diganti segera setelah bayi buang air besar. Hasil menunjukkan bahwa kadar bilirubin turun selama tiga hari fototerapi dan bantuan menyusui, yang mengurangi penyakit kuning bayi dan mendukung fototerapi sebagai pilihan pengobatan utama untuk hiperbilirubinemia bayi baru lahir.en_US
dc.description.sponsorshipYayasan Bina Patria Nusantaraen_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherFakultas Ilmu Kesehatan Universitas Tribhuwana Tunggadewien_US
dc.subjectAsuhan Keperawatan; Ikterik Neonatus; Hiperbilirubinen_US
dc.titleAsuhan Keperawatan pada Pasien Hiperbilirubin dengan Ikterik Neonatus di Ruangan Edelweis RSUD Mardi Waluyo Blitaren_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.nidnNIDN0713077604
dc.identifier.nimNIM2024611015
dc.identifier.kodeprodiKODEPRODI14901#NERS


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

  • Skripsi [137]
    Skripsi Mahasiswa Program Studi Profesi Ners

Show simple item record