• Login
    View Item 
    •   Beranda Rinjani
    • Fakultas Pertanian
    • Agroteknologi
    • Mahasiswa
    • Skripsi
    • View Item
    •   Beranda Rinjani
    • Fakultas Pertanian
    • Agroteknologi
    • Mahasiswa
    • Skripsi
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Efektivitas Ekstrak Serai Wangi (Cymbopogon nardus L) dan Ekstrak Daun Tembakau (Nicotiana tabacum) Dalam Pengendalian Ulat Grayak

    Thumbnail
    View/Open
    ARTIKEL (184.9Kb)
    CEK SIMILARITY (599.1Kb)
    Date
    2025-11-28
    Author
    Juni, RM
    Agastya, IMI
    Sumiati, A
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Ulat grayak (Spodoptera litura F.), hama utama, memangsa beragam tanaman karena sifatnya yang polifag. Karena kemampuannya memanfaatkan beragam tanaman inang, hama ini dapat hidup sepanjang tahun. Ketika larva muda (instar 1–3) memakan daun, mereka memakan jaringan daun bagian atas, hanya menyisakan urat daunnya saja. Itulah sebabnya infeksi ulat grayak seringkali ditandai dengan daun yang transparan. Hasil panen dapat terdampak dan kemampuan fotosintesis menurun akibat kerusakan ini. Meskipun pestisida kimia efektif dalam mengendalikan populasi hama, penggunaan produk-produk ini dalam jangka panjang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan serta menyebabkan resistensi hama. Oleh karena itu, diperlukan metode pengendalian alternatif yang aman dan ramah lingkungan, salah satunya adalah penggunaan pestisida nabati. Karena daun serai dan tembakau diketahui mengandung zat kimia aktif yang bersifat toksik terhadap serangga seperti alkaloid, saponin, dan minyak atsiri, keduanya dapat digunakan sebagai metode pengendalian hama alami. Selama lima bulan, penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Science Technopark, Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Ekstrak serai wangi dan ekstrak daun tembakau merupakan dua faktor perlakuan dalam rancangan acak lengkap (RAL) yang digunakan. Konsentrasi masing-masing unsur perlakuan adalah 60 g, 80 g, dan 100 g per liter larutan. Penurunan proporsi pembentukan pupa, lama inkubasi, aktivitas makan, dan mortalitas larva merupakan beberapa metrik yang diamati. Terapi yang paling berhasil untuk menurunkan populasi ulat grayak, menurut data, adalah ekstrak daun tembakau dengan konsentrasi 100 g/L (T3). Dengan sisa pakan terendah sebesar 0,40 g, kematian larva 100%, dan tidak ada perkembangan pupa (0%), perlakuan ini memberikan hasil terbaik. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun tembakau konsentrasi tinggi memiliki banyak potensi sebagai pestisida botani untuk mengendalikan hama ulat grayak (Spodoptera litura F.) dengan cara yang efisien, terjangkau, dan aman bagi lingkungan.
    URI
    https://rinjani.unitri.ac.id/handle/071061/4802
    Collections
    • Skripsi [239]

    Rinjani Unitri support OAI 2.0 URL  https://rinjani.unitri.ac.id/oai/request
    DSpace software copyright © 2002-2016  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    Atmire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    Login

    Rinjani Unitri support OAI 2.0 URL  https://rinjani.unitri.ac.id/oai/request
    DSpace software copyright © 2002-2016  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    Atmire NV