| dc.description.abstract | Indonesia menghadapi tantangan ketahanan pangan akibat ketergantungan tinggi terhadap beras, sementara sebagian besar wilayah berupa lahan kering yang berpotensi dikembangkan untuk serealia alternatif. Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kabupaten Sikka, memiliki sejarah panjang budidaya sorgum lokal, namun produktivitasnya masih rendah dibandingkan potensi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan adaptasi galur sorgum introduksi (G4, G5, G6) dan membandingkan performanya dengan varietas lokal sorgum Sikka. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan 4 perlakuan (Varietas Lokal, Galur 4, Galur 5, dan Galur 6) serta 4 ulangan, sehingga terdapat 16 satuan percobaan. Setiap petak percobaan berukuran 12 m² dengan jarak tanam 75 cm × 25 cm. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif (30 dan 110 HST), diameter batang, jumlah daun, biomassa, komponen malai, hasil biji, serta kandungan gula. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji BNT 5%.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nyata antar varietas. Varietas lokal memiliki keunggulan adaptasi awal dengan tinggi tanaman tertinggi pada fase 30 HST (38,12 cm), sedangkan Galur 4 menunjukkan pertumbuhan vegetatif terbaik pada 110 HST (284,67 cm), diameter batang terbesar (2,76 mm), serta produktivitas biji tertinggi 76,80 g/tanaman (setara 4,8–5,2 ton/ha). Galur 5 menonjol dalam kandungan gula (14,14° Brix), sedangkan Galur 6 memiliki ukuran biji terbesar (33,25 g/1000 biji) tetapi efisiensi produksinya rendah.Kesimpulannya, terdapat trade-off antara adaptasi lokal dan produktivitas tinggi. Varietas lokal tetap relevan untuk adaptasi awal dan plasma nutfah pemuliaan, sementara Galur 4 direkomendasikan sebagai kandidat utama peningkatan produktivitas sorgum di Kabupaten Sikka dengan pendampingan teknis intensif. | en_US |