Pembuatan Cilok Dengan Penambahan Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Kajian Perbandingan Tepung Beras dan Tepung Tapioka Serta Analisis Usahanya
Abstract
Aci dicolok adalah singkatan dari Cilok, di mana tepung kanji, atau "tepung aci" dalam bahasa Sunda, adalah bahan utamanya. Masakan daerah yang dikenal sebagai "cilok" berasal dari Jawa Barat. Tepung tapioka dan kulit ayam biasanya dicampurkan untuk membuat cilok yang banyak dikonsumsi masyarakat. Sehingga kandungan gizi di dalam cilok sangat rendah karena didominasi karbohidrat dan lemak. Selain itu karena cilok umumnya dibuat dari tapioka sehingga memiliki tekstur yang lembek karena menurut (Astawan, 2009) tapioka mengandung amilopektin yang saat direbus atau dikukus menyebabkan tekstur lembek dan lengket. Permasalahan ini perlu dicarikan solusi agar kandungan gizi cilok meningkat serta teksturnya tidak lembek. Menambahkan ekstrak dari kulit buah naga merah ke dalam adonan adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah nutrisi pada cilok. Dengan penambahan ini, diharapkan cilok akan mengandung antioksidan selain lemak dan karbohidrat. Menurut studi tahun 2013 oleh Hidayah, antosianin dari kulit buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan sebesar 76,71%. Senyawa flavonoid dan fenolik, yang merupakan pigmen yang terjadi secara alami yang memberikan warna merah pada benda, termasuk antosianin.
Kajian penelitian ini dilakukan tepatnya pada bulan Agustus 2024 di Laboratorium Rekayasa Proses Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan Laboratorium Pengujian Mutu Pangan Universitas Brawijaya. Yang menggunakan metode analisa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu faktor pertama konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah yang terdiri atas 3 level BN1:10%, BN2: 20%, BN3: 30%. Faktor kedua perbandingan tepung beras dengan tepung tapioka yang terdiri atas 3 level: TP1: 20% tepung beras: 80% tepung tapioka, TP2: 30% tepung beras: 70% tepung tapioka, TP3: 40% tepung beras: 60% tepung tapioka. Masing-masing kombinasi perlakuan di atas diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 27 sampel. Parameter penelitian ini yaitu uji Kadar Air, Tekstur, Antioksidan Dan Organoleptik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan terbaik diperoleh pada TP1BN3, yaitu cilok yang diproduksi berdasarkan perbandingan tepung beras dan tepung tapioka sebesar 20%:80%, serta konsentrasi ekstrak kulit buah naga sebanyak 30%. Hasil uji menunjukkan total NH sebesar 0,85, kadar air 12,50%, tekstur cilok 20,13%, kandungan antioksidan 3,70, rasa 3,70, tekstur organoleptik 3,77, warna 1,90, dan aroma 3,69. Produksi cilok dengan formulasi perbandingan tepung beras, tepung tapioka dan ekstrak kulit buah naga dinilai layak dijalankan. Nilai RCR mencapai 1,64 dengan HPP sebesar Rp 3.669 per kemasan. Harga jual produk ditetapkan Rp 6.000 per kemasan, dengan BEP unit sebanyak 13.018 kemasan dan BEP harga sebesar Rp 78.110.738. Dalam setahun, total produksi mencapai 36.000 kemasan, menghasilkan pendapatan penjualan tahunan sebesar Rp 216.000.000. Setelah dikurangi biaya produksi sebesar Rp 132.098.214, usaha ini memberikan laba bersih sebesar Rp 83.901.7836 per tahun.
Collections
- Skripsi [122]
